My Life 13 : Sedikit Celotehan Tentang 'Pukat'
2Kawan, aku memiliki sebuah novel baru yang berjudul 'Pukat'. Kalian tahu apa itu pukat? Bukaan. Bukan pukat yang suka dipakai para nelayan untuk mengambil ikan *aku tau kalian langsung teringat akan pukat harimau :D*Namun di sini, pukat adalah sebuah nama. Ya, seorang bocah SD berusia 10 tahun bernama Pukat. Memiliki 3 saudara kandung, satu kakak yaitu Eliana, dua orang adik yaitu Burlian dan Amelia. Sebuah novel menyenangkan karangan Tere-Liye!
Begitu membaca, aku yakin kalian akan merasakan aura masa kanak-kanak yang berbeda. Mengesankan! Membaca novel ini membuatku ingin kembali mengulang masa kecil dan memperbaiki segala kekeliruan yang pernah kuperbuat. -o-
Kalian mau tahu seperti apa novelnya? Ini dia...
Aku kasih sedikit sinopsisnya ya!
Apakah kalian memiliki pertanyaan tak terjawab seperti Pukat?
Kalau punya, itu bagus! Menurut Wak Yati, pertanyaan tanpa jawaban itu lebih baik dibandingkan dengan pertanyaan dengan jawabannya. Karena dengan begitu, kita akan lebih banyak mencari tahu, lebih menghargai proses-proses pencarian jawaban yang justru akan menjadikan kita lebih dewasa!
Nah, kawan, jadi jangan mangkel ya kalau kalian diberi tebak-tebakan yang sulit dijawab. Berterimakasihlah pada sang pemberi tebakan, hehehe.
Sekiranya sekian info buku yang aku kasih di penghujung sore berhujan ini *di rumahku sih lagi hujan, bro!*
Salam,
Rani.
Begitu membaca, aku yakin kalian akan merasakan aura masa kanak-kanak yang berbeda. Mengesankan! Membaca novel ini membuatku ingin kembali mengulang masa kecil dan memperbaiki segala kekeliruan yang pernah kuperbuat. -o-
Kalian mau tahu seperti apa novelnya? Ini dia...
| Saya dan 'Pukat' :D |
Aku kasih sedikit sinopsisnya ya!
"Langit tinggi ibarat dinding, lembah luas ibarat mangkok, hutan menghijau seperti zamrud, sungai mengalir ibarat naga, tak terbilang kekayaan kampung ini. Sungguh, tak terbilang. Maka, yang manakah harta karun paling berharganya?"
Gerimis menyisakan pelangi di lembah kampung, terlihat menawan dari atas rumah panggung. Kaki pelangi itu menghujam jauh di ujung sungai sana. Wak Yati perlahan balik kanan, melangkah masuk, membiarkan aku mematung sejenak di anak tangga.
Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan kemudian, aku selalu bertanya pada Bapak, Pak Bin, juga Mamak. Mungkin saja mereka tahu jawaban dari tebakan teristimewa dari Wak Yati.
Namun, aku tidak pernah menyangka, hingga sepuluh tahun mendatang aku tetap tidak tahu apa jawabannya. Dan Wak Yati benar, aku menyebutkan jawaban itu di atas pusaranya. Terisak menangis sambil memunguti bunga kamboja.
Kawan, betapa berartinya kita sebagai generasi muda. Kita lah yang akan menanggung beban berat bangsa ini di kemudian hari. Jangan pernah bertanya apa tanggung jawab yang akan kita hadapi. Seperti yang kalian tahu, ah, kawan pasti sudah terlampau cerdas untuk urusan seperti ini. Ya kan? :) Aku sekedar mengingatkan.. Bahwa setiap khalifah akan dimintai pertanggungjawabannya di hari akhir nanti. Negara ini, bangsa ini, adalah tanggung jawab kita. Kita, generasi muda-lah yang wajib menopang tanah air Indonesia.Pukat, seorang anak cerdas yang selalu tahu. Ia pandai menyambung-nyambungkan makna harfiah dari sebuah idiom dan membuat kesimpulannya dengan tepat. Kemampuannya dalam menjawab teka-teki pun bisa dibilang handal. Maka, hanya pertanyaan istimewa dari Wak Yati lah yang sulit untuk ia terka. Kau tahu jawabannya? Sebuah harta yang paling berharga, bukan hanya milik kampung Pukat, namun jua milik bangsa ini.
Apakah kalian memiliki pertanyaan tak terjawab seperti Pukat?
Kalau punya, itu bagus! Menurut Wak Yati, pertanyaan tanpa jawaban itu lebih baik dibandingkan dengan pertanyaan dengan jawabannya. Karena dengan begitu, kita akan lebih banyak mencari tahu, lebih menghargai proses-proses pencarian jawaban yang justru akan menjadikan kita lebih dewasa!
Nah, kawan, jadi jangan mangkel ya kalau kalian diberi tebak-tebakan yang sulit dijawab. Berterimakasihlah pada sang pemberi tebakan, hehehe.
Sekiranya sekian info buku yang aku kasih di penghujung sore berhujan ini *di rumahku sih lagi hujan, bro!*
Salam,
Rani.
yang pertama kali aku ingat malah alpukat ran !! hehhehe.. *sorry makanan muluu*
BalasHapuspinjeeemmmmmmmmmmmmmm !! ahahahaha :D
*novel yang dulu aja blum dibalikin :p *
*tepukjidat*
BalasHapusOi, hidupmu makaan ae yaan --"
Hahaha, okeoke, pinjem aja. Masih ada novel yang lain juga kok, makanya maen ke rumah *bujuk*
Nanti juga aku pinjem manusia setengah salmon muu xD