Andai Perasaan Itu Tak Pernah Ada

0
10.33
Hal lumrah yang terlalu menyakitkan. Mengapa banyak orang mudah tertipu?
Cinta, kata paling populer yang sering dijadikan sangkalan ketika hati sudah terlalu terpuruk.
Masih bertahan hanya demi cinta? Subhanalloh.. Kalian terlalu memaksa diri untuk hal yang sebenarnya sia-sia.

Kawan, perasaan itu hanya sebatas ilusi, angan-angan kalian. Belum saatnya perasaan itu singgah di benak kalian yang suci. Belum...

Andaikata kalian berdalih bahwa kalian sudah benar-benar merasakan itu, sekarang bolehkah aku meminta, apa bukti dari itu semua? Sudahkah kalian siap untuk berikrar saling melindungi, menjaga, menyayangi, membangun sebuah kehidupan kecil bersama berlandaskan pedoman-pedoman Ilahi?

Sungguh, di usia sedini ini, perasaan semacam itu hanyalah tipuan. Detak jantung tak beraturan ketika berpapasan, perasaan berbunga-bunga saat tak sengaja beradu pandang, bahkan bahagia tak terkira ketika kau mendapatkan untaian kata darinya, semuanya semu. Rasa bahagia itu, rasa tak karuan itu, bukan berasal dari nurani, semua jebakan setan yang selalu mencari keuntungan di tengah sempitnya kebenaran.

Cinta. Dan akhirnya ia akan kau salahkan karena kau anggap ialah sang penghancur kehidupanmu. Saat perasaanmu mulai goyah, jatuh, sakit, tak mampu berkata apa-apa lagi, maka cinta akan jadi kambing hitam yang selalu kau salahkan. Duhai, apakah salahnya? Bukankah ia yang dulu kau puja? Ia yang dulu kau bangga-banggakan karena kau mampu memiliki perasaan seindah itu. Mengapa sekarang kau malah memaki rasa yang tak bersalah itu? Mengapa, kawan?

Kawan, tahukah engkau? Gurat wajahmu yang dulu selalu tersenyum bahagia mulai padam, laksana sebatang lilin yang akan segera kehilangan pelitanya. Kau pendam segalanya dalam hati tanpa bisa berkata apa pun padaku. Kau tahu? Aku hanya bisa memandangmu sedih, aku tak bisa melakukan apa apa untukmu, karena aku tahu, masalah itu tak sesederhana yang kuduga. Apakah kau mengerti? Raut wajahku yang terlalu sulit tersenyum di masa-masa bahagiamu, senyumku tak bisa selepas tawamu. Aku tahu semuanya, kawan. Aku tahu jika pada akhirnya kau akan tenggelam, terpuruk, bahkan bisa lebih buruk dari itu. Namun kau tak pernah mau dengar. Dan aku mundur perlahan, menjauh, membiarkan kau menari-nari sejenak dengan semua angan-anganmu.

Semua hal selalu memiliki saat yang tepat. Cinta, hal itu pun memiliki waktu tersendiri untuk dirasa. Saat kita semakin dewasa dan memiliki suatu keharusan. Pada saatnya, cinta akan terasa begitu indah. Saat itu, semua bukanlah bohong, semua itu nyata. Bahagiamu, bahagiaku, bahagia kita, semua itu nyata.

Tolong percayai aku, percayai setiap butir kata yang terucap dariku. Aku hanya ingin kau tetap menjaga nama Alloh dalam hatimu. Menjaga hati yang seharusnya masih suci itu.

About the author

Donec non enim in turpis pulvinar facilisis. Ut felis. Praesent dapibus, neque id cursus faucibus. Aenean fermentum, eget tincidunt.

0 comments:

Thanks for read, leave a cool comment, fellas =)