My Life 14 : Kalau Aku Boleh Berbicara
2Setelah beberapa isi entriku berisi hal yang waras, maka sekarang nggak lagi :D
Banyak pikiran yang akhir-akhir ini menyumbat kerja otakku. Aish, kadang aku sebal sendiri menerima fakta ini. Berharap saat ini juga semua pemikiran buruk menguap begitu saja!
Kawan, kalian tahu? Sudah lama aku nggak ngerasain hal seaneh ini lagi. Aneh.. Ya, aneh pol! Setelah merasa bahagia beberapa waktu, lalu tiba-tiba saja semuanya terasa menyedihkan. Gimana nggak bingung sama perasaanku yang in-konsisten ini? Alloh..
Tuh kan, apa kataku. Manusia itu curang, kalau merasa susah, barulah mereka menyebut nama Alloh. Dan hal itu pula yang sering aku lakukan. Ya Alloh.. maafkanlah hamba-Mu ini..
Entahlah, aku labil, dan mungkin gara-gara aku sendiri adalah seorang remaja sekarang. Memasuki masa baligh, mukallaf. Yang sudah wajib untuk mematuhi semua aturan agama. Yah, aturan agama yang seringkali hanya sebatas teori sekolahan dan pondok untuk diingat, bukan untuk dijalankan. Masya Alloh..
Termasuk.. aku sendiri. Seringkali, aku menghiraukan, atau.. lebih tepatnya aku takut untuk mengakui bahwa sesuatu itu dilarang. Jelas-jelas ada dalam Al-Qur'an, atau Hadist, atau Kitab. Dan sesuatu yang dilarang itulah yang terlalu merajalela dalam benakku.
Aku tahu. Sudah lama tahu kalau segala apa yang ada di dunia ini hanya semu. Tidak boleh ada yang namanya bergantung pada orang lain. Tempat bergantung hanyalah Alloh SWT semata. Namun inilah kekhilafan yang sering kulakukan. Nggak ada teman, sahabat, atau tempat curhat yang bisa diandalkan kadang bikin aku sedih sendiri. Padahal itu nggak boleh, kan? Nah pada saat seperti inilah kesedihan itu muncul. Beberapa detik yang
lalu aku merasa dihargai, tapi sedetik kemudian, aku sadar, sesuatu yang aku butuhkan bukan hanya sekedar dihargai. Aku butuh untuk 'dibutuhkan', dianggap ada, dan dianggap perlu. Aku yakin ini berlebihan. Tapi itu memang perasaan yang nggak akan terbukti kalau tidak dirasakan sendiri.
Aku sering menganggap seseorang adalah seorang yang terbaik, terdekat. Dan ketika hal itu bukan kenyataan, aku kecewa. Aku terlampau sering labil. Aish.. Apa sih susahnya hidup tenang Ran? Kadang aku susah untuk merealisasikan arti dari namaku sendiri.
Entahlah teman, aku tengah bergalau ria kali ini. Bukan.. bukan galau seperti kebanyakan remaja yang kasmaran. Atau mungkin aku sedang mengalami hal itu? Ahaha, khusus hal yang satu itu kurasa tidak =D
Doakan saja aku, agar segera terlepas dari jerat-jerat perasaan aneh yang berulang kali datang mengujiku.
Banyak pikiran yang akhir-akhir ini menyumbat kerja otakku. Aish, kadang aku sebal sendiri menerima fakta ini. Berharap saat ini juga semua pemikiran buruk menguap begitu saja!
Kawan, kalian tahu? Sudah lama aku nggak ngerasain hal seaneh ini lagi. Aneh.. Ya, aneh pol! Setelah merasa bahagia beberapa waktu, lalu tiba-tiba saja semuanya terasa menyedihkan. Gimana nggak bingung sama perasaanku yang in-konsisten ini? Alloh..
Tuh kan, apa kataku. Manusia itu curang, kalau merasa susah, barulah mereka menyebut nama Alloh. Dan hal itu pula yang sering aku lakukan. Ya Alloh.. maafkanlah hamba-Mu ini..
Entahlah, aku labil, dan mungkin gara-gara aku sendiri adalah seorang remaja sekarang. Memasuki masa baligh, mukallaf. Yang sudah wajib untuk mematuhi semua aturan agama. Yah, aturan agama yang seringkali hanya sebatas teori sekolahan dan pondok untuk diingat, bukan untuk dijalankan. Masya Alloh..
Termasuk.. aku sendiri. Seringkali, aku menghiraukan, atau.. lebih tepatnya aku takut untuk mengakui bahwa sesuatu itu dilarang. Jelas-jelas ada dalam Al-Qur'an, atau Hadist, atau Kitab. Dan sesuatu yang dilarang itulah yang terlalu merajalela dalam benakku.
Aku tahu. Sudah lama tahu kalau segala apa yang ada di dunia ini hanya semu. Tidak boleh ada yang namanya bergantung pada orang lain. Tempat bergantung hanyalah Alloh SWT semata. Namun inilah kekhilafan yang sering kulakukan. Nggak ada teman, sahabat, atau tempat curhat yang bisa diandalkan kadang bikin aku sedih sendiri. Padahal itu nggak boleh, kan? Nah pada saat seperti inilah kesedihan itu muncul. Beberapa detik yang
lalu aku merasa dihargai, tapi sedetik kemudian, aku sadar, sesuatu yang aku butuhkan bukan hanya sekedar dihargai. Aku butuh untuk 'dibutuhkan', dianggap ada, dan dianggap perlu. Aku yakin ini berlebihan. Tapi itu memang perasaan yang nggak akan terbukti kalau tidak dirasakan sendiri.
Aku sering menganggap seseorang adalah seorang yang terbaik, terdekat. Dan ketika hal itu bukan kenyataan, aku kecewa. Aku terlampau sering labil. Aish.. Apa sih susahnya hidup tenang Ran? Kadang aku susah untuk merealisasikan arti dari namaku sendiri.
Entahlah teman, aku tengah bergalau ria kali ini. Bukan.. bukan galau seperti kebanyakan remaja yang kasmaran. Atau mungkin aku sedang mengalami hal itu? Ahaha, khusus hal yang satu itu kurasa tidak =D
Doakan saja aku, agar segera terlepas dari jerat-jerat perasaan aneh yang berulang kali datang mengujiku.
tetep istiqomah ya ran :D SEMANGAT !!
BalasHapustetep istiqomah ya ran :D SEMANGAT !
BalasHapus